TheAmbenganTenten | The Ambengan Tenten https://www.theambengantenten.com Work & Life Balance Tue, 09 May 2023 16:24:51 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.8.13 Meniti Perjalanan Diri Melalui Niti Windu di TAT Art Space https://www.theambengantenten.com/meniti-perjalanan-diri-melalui-niti-windu-di-tat-art-space/ Mon, 16 Jan 2023 09:00:15 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4153 Jumat (13/01) lalu, TAT Art Space by The Ambengan Tenten kembali membuka pintunya untuk publik dalam pembukaan pameran solo Budi Kampret, seorang seniman asal Ngawi yang mengusung tajuk “Niti Windu”. Budi Kampret sendiri mengakui bahwa pameran solonya kali ini merupakan rangkuman perjalanan hidup yang dirasakannya selama pandemi melanda hingga akhirnya beliau mampu menghasilkan banyak karya […]

The post Meniti Perjalanan Diri Melalui Niti Windu di TAT Art Space first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Jumat (13/01) lalu, TAT Art Space by The Ambengan Tenten kembali membuka pintunya untuk publik dalam pembukaan pameran solo Budi Kampret, seorang seniman asal Ngawi yang mengusung tajuk “Niti Windu”. Budi Kampret sendiri mengakui bahwa pameran solonya kali ini merupakan rangkuman perjalanan hidup yang dirasakannya selama pandemi melanda hingga akhirnya beliau mampu menghasilkan banyak karya yang merepresentasikan jiwa-jiwa terkungkung pascapandemi COVID-19.

Budi Kampret yang lebih akrab menggunakan arang sebagai media utamanya dalam berkesenian pun mengakui bahwa pamerannya kali ini merupakan tantangan tersendiri baginya mengingat bagaimana dirinya harus kembali menggunakan cat akrilik dan kanvas sebagai media bermainnya. Tak dapat dimungkiri, karya-karya ciamiknya pada pameran Niti Windu kali ini  pun memberikan sentimental tersendiri baginya. Tak lupa dengan pertunjukan wayang koran bertajuk “Lawat Tresne” yang didalangi oleh Budi Kampret sendiri, Budi mencoba menyuguhkan narasi budaya yang bersifat terbuka bagi penonton yang ingin menginterpretasikan maknanya.

Yurison Suryantara, selaku Manager TAT Art Space juga mengakui bahwa ini adalah pameran solo kedua yang banyak mengusung kebudayaan Jawa di dalamnya. Melalui narasi Niti Windu sendiri, baik pengunjung ataupun kolektor seni yang ada diajak bersama-sama untuk menelisik lebih jauh terkait dengan apa yang masing-masing dari mereka rasakan. Berkaca pada karya seni yang bersifat terbuka dalam pemaknaannya, sekali lagi TAT Art Space mampu memberikan warna baru pada skena seni Denpasar.

Pameran Niti Windu sendiri masih akan dibuka untuk publik hingga Jumat, 27 Januari 2023 mendatang di TAT Art Space by The Ambengan Tenten.

 

Silakan kunjungi katalog Niti Windu pada tautan berikut.

The post Meniti Perjalanan Diri Melalui Niti Windu di TAT Art Space first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Mengawali 2023 dengan Resolusi, Konsistensi, dan Serba-serbi Pascapandemi https://www.theambengantenten.com/mengawali-2023-dengan-resolusi-konsistensi-dan-serba-serbi-pascapandemi/ Tue, 03 Jan 2023 09:49:58 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4068 Menjalani 2023 yang baru berjalan beberapa hari lamanya, saya menyadari bahwa semua orang sudah kembali berlomba menentukan resolusi baru mana saja yang akan dijalankannya. Setelah dirundung oleh pandemi 3 tahun belakangan, 2023 seakan menjadi angin segar bagi siapapun yang pernah merasakan kemelut pandemi yang berkepanjangan. Resolusi mungkin menjadi solusi terbaik bagi tiap-tiap kita yang ingin […]

The post Mengawali 2023 dengan Resolusi, Konsistensi, dan Serba-serbi Pascapandemi first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Menjalani 2023 yang baru berjalan beberapa hari lamanya, saya menyadari bahwa semua orang sudah kembali berlomba menentukan resolusi baru mana saja yang akan dijalankannya. Setelah dirundung oleh pandemi 3 tahun belakangan, 2023 seakan menjadi angin segar bagi siapapun yang pernah merasakan kemelut pandemi yang berkepanjangan. Resolusi mungkin menjadi solusi terbaik bagi tiap-tiap kita yang ingin membenahi diri sekali lagi. Tapi pertanyaan yang cukup menggelitik untuk saya: apakah resolusi itu sendiri benar-benar mampu menyelesaikan masalah yang kemarin kita hadapi?

Mengutip dari sebuah jurnal studi perilaku bertajuk, “A Large-scale Experiment on New Year’s Resolutions: Approach-oriented Goals Are More Successful Than Avoidance-oriented Goals”, 77% orang mampu mempertahankan resolusi awal tahunnya pada minggu pertama, di mana angka tersebut berkurang menjadi 55% orang yang mampu mempertahankan resolusinya pada satu bulan pertama, dan kembali berkurang sebanyak 40% setelah 6 bulan, hingga berakhir pada angka 19% saja yang mampu mempertahankan resolusinya pada akhir tahun tersebut.

Untuk saya pribadi, rasa-rasanya resolusi hanyalah basa-basi semata apabila kita tidak mampu mempertahankannya hingga akhir hari. Dan jika bicara tentang resolusi itu sendiri, saya yakin banyak dari kita yang ingin mulai hidup lebih sehat, memiliki karir yang lebih cemerlang, hingga memiliki pasangan yang lebih sejalan dengan nilai yang sudah kita jalani dan amini dalam diri. Tak apa, tulislah setiap gol yang ingin kita capai—toh itu adalah tolok ukur yang dapat kita pegang pada akhir hari, bukan?

Dalam menyikapi resolusi tahun baru yang sering kali tidak memberikan solusi apa pun atas masalah yang kita hadapi pada tahun sebelumnya, berikut adalah beberapa cara sederhana untuk tetap menjadi konsisten:

Mulailah dari hal-hal kecil

Saya mau lari 10K setiap hari. Untuk seseorang yang sudah lama tidak berlari, tidakkah gol 10K/hari terasa kurang relevan? Alih-alih membuat gol semacam ini, buat saja gol-gol kecil yang lebih sederhana seperti 3K pada 2 minggu pertama, dilanjutkan dengan gol 5K pada 2 minggu selanjutnya, dan begitu seterusnya hingga angka yang diinginkan pun meningkat secara bertahap. Bukankah gol-gol sederhana semacam itu akan terasa lebih mudah untuk dicapai?

Buatlah kebiasaan baru

Alih-alih menghentikan kebiasaan lama, studi yang sama yang dilakukan oleh Oscarsson, dkk juga menyebutkan bahwa mereka yang membuat resolusi berupa kebiasaan baru memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi. Mereka yang menantang dirinya untuk melakukan hal baru ialah mereka yang memberikan dirinya kesempatan untuk mencoba. Tentunya, tak semua orang menyukai hal tersebut. Namun bukan pula hal yang salah untuk menantang diri sebagai sebentuk cara kita membuat milestone baru.

Carilah teman sepemikiran

Ketika kita mau melakukan hal baru, saya percaya bahwa “keinginan” itu saja tidak cukup. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Di mana pada akhirnya, kita butuh mereka yang mampu memotivasi kita untuk tetap berada pada jalur pemikiran yang sama. Apabila resolusimu adalah hidup lebih sehat, pergilah ke gym dan temuilah mereka yang memiliki orientasi serupa. Apabila yang kau inginkan ialah membaca 30 buku selama 2023, carilah komunitas penulis dan/atau pembaca di internet—potensi bertukar pikiran dan rekomendasi akan selalu ada di sana. Selama kau tau apa yang kau inginkan, jangan ragu mencari koneksi yang mampu memberikan dirimu peluang untuk tetap berada pada jalur yang tepat.

Pada akhirnya, setiap resolusi memang membutuhkan konsistensi. Terlepas dari setiap gol yang tercapai atau tidak, siapa pun berhak membuat ceklis tersebut. Benar, saya pun memiliki resolusi yang ingin saya kejar tahun ini. Ada banyak hal menarik yang masih ingin saya kulik dalam hidup ini. Namun saya rasa, setahun belakangan menulis untuk The Ambengan Tenten telah berhasil mengubah banyak perspektif yang saya miliki dalam hidup. Komunitas yang suportif, suasana yang mendukung, serta kenyamanan tinggal yang mengusung one-stop living sebagai solusi yang tempat ini tawarkan menjadi sesuatu yang tak saya dapatkan di banyak tempat di luar sana.

The Ambengan Tenten menawarkan konsistensi tersendiri untuk setiap resolusi berkehidupan yang mungkin kaumiliki. Pertanyaannya: apa resolusi yang ingin kaucapai tahun ini?

 

 

Bacaan lebih lanjut:

Oscarsson, Martin dkk. 2020. “A Large-scale Experiment on New Year’s Resolutions: Approach-oriented Goals Are More Successful Than Avoidance-oriented Goals”. Diakses pada 3 Januari 2023.

Mudge, Lou. 2023. “Do New Year’s Resolutions Really Work?”. Diakses pada 3 Januari 2023.

The post Mengawali 2023 dengan Resolusi, Konsistensi, dan Serba-serbi Pascapandemi first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
HNS Studio dan Mimpinya yang Bertajuk “Local Hero” https://www.theambengantenten.com/hns-studio-dan-mimpinya-yang-bertajuk-local-hero/ Mon, 31 Oct 2022 06:02:00 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3853   \Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Jumat lalu (28/10) The Ambengan Tenten kembali menggelar pembukaan pameran untuk kesekian kalinya. Yang membuat saya sedikit tergelitik ialah tema pameran yang diusungnya bertajuk “Local Hero”. Entah apa yang ingin disampaikannya pada pameran kali ini. Namun berbeda dari ekshibisi sebelumnya yang memamerkan sederet karya pribadi seorang visual/street artist, pameran […]

The post HNS Studio dan Mimpinya yang Bertajuk “Local Hero” first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

 

\Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Jumat lalu (28/10) The Ambengan Tenten kembali menggelar pembukaan pameran untuk kesekian kalinya. Yang membuat saya sedikit tergelitik ialah tema pameran yang diusungnya bertajuk “Local Hero”. Entah apa yang ingin disampaikannya pada pameran kali ini. Namun berbeda dari ekshibisi sebelumnya yang memamerkan sederet karya pribadi seorang visual/street artist, pameran kali ini merupakan karya kolektif dari sebuah studio asal Tampaksiring, Gianyar.

HNS Studio adalah sebuah studio desain hasil mimpi seorang seniman lokal kenamaan yang lebih akrab disapa Raka Jana. Dan ketika ditanya mengapa pameran kali ini tidak membawa namanya saja, Raka Jana beranggapan bahwa semua ini bukanlah hanya mimpinya seorang. Melainkan mimpi teman-teman dari HNS Studio juga. Terkait tajuk yang diusungnya, Raka Jana pun mengingatkan kita semua untuk selalu menemukan inspirasi dari hal-hal terdekat di sekitar kita. “Local Hero” seakan hadir sebagai pengingat bahwa mimpi hanyalah mimpi tanpa mereka yang memberikan dukungannya untuk kita. Dan siapa sangka juga? Pada pameran kali ini, Raka Jana membawa serta sudut kamar indekosnya sebagai bentuk memorabilia bahwa sebuah mimpi dapat menjadi realita juga.

Hal yang sama tentunya juga dirasakan oleh seluruh tim HNS Studio—bahwasanya pahlawan menurut versi mereka ialah orang-orang yang sangat menginspirasi dalam berkarya. Ekosistem yang terbangun di dalamnya pun telah berhasil menginspirasi masing-masing dari mereka dan menjadikannya pahlawan versi mereka sendiri. Hal ini dapat dilihat dari kerjasama segenap tim HNS Studio pada hari pembukaan pameran “Local Hero” berlangsung.

Raka Jana mungkin memiliki nama besarnya sendiri. Namun yang membuat saya berdecak kagum ialah keinginannya untuk membagi spotlight yang sama agar baik dirinya maupun HNS Studio bisa menjadi besar bersama. Sederet karya yang dipamerkan pada ekshibisi kali ini tentunya merupakan hasil jerih payah teman-teman HNS Studio. Dan dengan dicoretnya papan pembukaan hari itu, publik dapat menikmati karya-karya HNS Studio dan Raka Jana hingga 2 minggu ke depan sampai tanggal 12 November mendatang.

“Local Hero” resmi dibuka oleh Raka Jana (28/10)

Sekali lagi, TAT Art Space mampu memberikan saya perspektif baru lainnya. Dan sejujurnya, saya tidak sabar menantikan kejutan pameran-pameran mereka selanjutnya.

The post HNS Studio dan Mimpinya yang Bertajuk “Local Hero” first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Reflection: Serentetan Karya Seni yang Membuat Kita Berefleksi https://www.theambengantenten.com/reflection-serentetan-karya-seni-yang-membuat-kita-berefleksi/ Mon, 10 Oct 2022 03:05:21 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3849 Siapa sangka visual artist yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui namanya ternyata merupakan seniman papan atas yang karyanya sudah mendunia? Fivust adalah nama yang asing untuk saya pada awalnya. Namun usut punya usut, Jumat lalu TAT Art Space kembali membuka galerinya untuk publik dan memamerkan sejumlah karya milik Fivust bertajuk “Reflection”. Yang menarik, ini adalah […]

The post Reflection: Serentetan Karya Seni yang Membuat Kita Berefleksi first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Foto oleh Fivust

Siapa sangka visual artist yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui namanya ternyata merupakan seniman papan atas yang karyanya sudah mendunia?

Fivust adalah nama yang asing untuk saya pada awalnya. Namun usut punya usut, Jumat lalu TAT Art Space kembali membuka galerinya untuk publik dan memamerkan sejumlah karya milik Fivust bertajuk “Reflection”. Yang menarik, ini adalah kali pertama TAT Art Space membuka pintunya untuk street artist yang seringkali diremehkan dan dianggap tidak sejalan dengan seni kontemporer kebanyakan. Fivust adalah seorang visual artist yang muralnya sudah ada di banyak negara—mulai dari Jepang, Australia, bahkan hingga Rusia. Dan untuk pertama kalinya, Fivust menggelar pameran solonya di Indonesia, tepatnya di TAT Art Space by The Ambengan Tenten, Bali.

“Reflection”, menurut Fivust sendiri, merupakan perwujudan dan citra yang muncul dari dalam dirinya setelah mengakhiri suatu babak kehidupan. Tajuk ini dipilih berdasarkan gejolak yang dirasakannnya terhadap ketidakpastian pandemi. Dengan pameran ini, Fivust bermaksud menggelitik setiap penikmat seni untuk melirik urgensi dan melihat kembali ke cermin sembari menikmati perubahan besar dan kecil yang muncul selama masa pandemi dan pascapandemi. Lebih dari 15 karya dipamerkan mulai dari patung, karya kanvas, hingga instalasi yang merupakan serentetan karya yang diproduksinya selama masa pandemi (2020-2022).

Dari sudut pandang Fivust, tentunya pandemi juga berhasil mempengaruhi proses kreatifnya dalam berkarya. Keterpaksaan untuk menahan dan merefleksikan diri lebih jauh telah menghasilkan karya dengan cita rasa yang berbeda. Lebih mendalam dan bergema, tanpa dibatasi oleh fragmen waktu. Selain menghadirkan karya dengan ide, teknik, dan tampilan baru yang diciptakan sebagai respon visual terhadap identitas, “Reflection” juga akan memberikan kesempatan kepada penonton untuk merenungkan apa yang telah kita lalui dan bagaimana kita harus menghadapinya. Diri kita saat ini adalah perayaan dari apa yang telah kita lalui sebagai sebagai seorang individu di masa lalu.

Kala Jumat itu melarut dalam pembukaan “Reflection”, saya bisa melihat ada banyak wajah baru yang turut bersukacita atas satu lagi pencapaian teman seniman kita. Tak lupa dengan live painting oleh Fivust yang menambah decak kagum para undangan yang hadir, kehadiran Fivust pada TAT Art Space memberikan kesan akrab yang mampu melepaskan stigma-stigma tersendiri terhadap teman-teman street/visual artist di luar sana. Dan sekali lagi, TAT Art Space berhasil membangun ruangnya dengan aktivasi menarik yang mampu membuat setiap mata meliriknya. Tentunya, saya yakin siapa pun yang hadir setuju dengan saya.

Mungkin memang ada baiknya apabila hal-hal sederhana bisa membuat kita terus berkaca akan perkembangan diri kita. Untuk siapa pun yang membaca tulisan ini, apabila kalian belum sempat hadir kemarin, silakan datang dan rasakan magisnya sebuah karya yang mampu mengubah perspektif kita. “Reflection” oleh Fivust masih dapat dinikmati hingga 21 Oktober 2022 nanti.

Selamat menikmati karya seni, selamat berefleksi.

The post Reflection: Serentetan Karya Seni yang Membuat Kita Berefleksi first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
TAT Art Space: Ekshibisi Solo Beluluk dan Kearifan Lokal Bali https://www.theambengantenten.com/tat-art-space-ekshibisi-solo-beluluk-dan-kearifan-lokal-bali/ Mon, 19 Sep 2022 09:13:54 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3821 Siapa sih yang nggak tau Beluluk? Sebagai penikmat media sosial yang berkehidupan di tanah Dewata, rasa-rasanya karakter Beluluk cukup dekat dengan kita semua. Dengan segala celotehannya di media sosial yang kerap kali menyentil isu-isu terhangat, Beluluk seakan hadir sebagai pengingat untuk kita. Setelah sekian lama mengenal Beluluk dari layar telepon genggam, akhirnya saya berkesempatan juga […]

The post TAT Art Space: Ekshibisi Solo Beluluk dan Kearifan Lokal Bali first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Siapa sih yang nggak tau Beluluk? Sebagai penikmat media sosial yang berkehidupan di tanah Dewata, rasa-rasanya karakter Beluluk cukup dekat dengan kita semua. Dengan segala celotehannya di media sosial yang kerap kali menyentil isu-isu terhangat, Beluluk seakan hadir sebagai pengingat untuk kita.

Setelah sekian lama mengenal Beluluk dari layar telepon genggam, akhirnya saya berkesempatan juga untuk mengenal lebih dekat siapa sosok kreator di balik karakter Beluluk. Mengusung tajuk “Pakedek Pakenyem Pawisik”, kali ini TAT Art Space berhasil membuat para undangan berdecak kagum melalui ekshibisi solo Putu Dian sebagai kreator Beluluk. Pasalnya, tidak hanya menyuguhkan beberapa komik strip khas Beluluk, terdapat beberapa aktivasi menarik yang dilakukan oleh Putu Dian hari itu. Acara mewarnai bersama anak-anak, artist talk, serta performance oleh Rare Kual memberikan intimasi tersendiri bagi siapa pun yang hadir.

Sebagai salah seorang perantau yang memilih hidup di tanah Dewata, tentunya ada banyak hal yang seharusnya bisa saya pelajari mengenai kearifan lokal. Melalui pembukaan ekshibisi “Pakedek, Pawisik, Pakenyem” hari itu, saya belajar bahwa ada banyak sisi menarik yang bisa kita mengerti tentang kebudayaan Bali. Ketika mendengar tajuk ekshibisi yang satu ini pun, saya bertanya-tanya mengenai makna yang terpendam di baliknya. Dan benar saja, ada makna tersendiri yang ingin disampaikan melalui pameran satu ini.

Menutur dari kearifan lokal Bali, pakedek pakenyem merupakan sebuah ungkapan populer yang begitu melekat di tengah masyarakat yang secara figuratif merupakan seruan sukacita untuk setiap masalah yang kita rasakan. Sedangkan pawisik yang berarti wahyu, merupakan isyarat semesta pada manusia akan sesuatu yang telah/sedang/akan terjadi. Pakedek, pakenyem, pawisik memberikan makna di mana Putu Dian mencoba mengajak teman-teman semua untuk tetap bersenang hati walau masalah hidup terus ada. Yang menariknya lagi, Putu Dian membawa serta seri terbarunya bertajuk “Speak Up” yang berisi 30 karakter Beluluk dengan kolom dialog yang bisa diisi oleh teman-teman semua. Melalui seri ini pula, Putu Dian ingin mengingatkan kita semua untuk berani mengungkapkan ide yang kita miliki.

Setelah aktivasi dan artist talk, setiap tamu undangan pun diajak serta untuk melihat-lihat setiap sudut TAT Art Space yang direspon melalui banyak dekorasi menarik. Tentunya, hari itu menjadi satu lagi hari yang saya habiskan dengan sukacita. Berbincang dengan Putu Dian, tamu-tamu undangan, serta banyak lagi teman-teman yang hadir membuat saya mengerti bagaimana budaya dapat dikemas dalam satu wadah menarik melalui seni.

The post TAT Art Space: Ekshibisi Solo Beluluk dan Kearifan Lokal Bali first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
How to Tackle Ideas-Blockage as An Entrepreneur? https://www.theambengantenten.com/how-to-tackle-ideas-blockage-as-an-entrepreneur/ Wed, 31 Aug 2022 10:50:31 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3806 As a millenial who works in a fast-paced environment that demands things done within seconds, I think we agree that we get stuck easily from time to time. Clients come and go with things they want from us, yet never enough resources of ideas that keep us afloat. We all have been there, of course—stuck […]

The post How to Tackle Ideas-Blockage as An Entrepreneur? first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

As a millenial who works in a fast-paced environment that demands things done within seconds, I think we agree that we get stuck easily from time to time. Clients come and go with things they want from us, yet never enough resources of ideas that keep us afloat. We all have been there, of course—stuck in a situation where we have to move fast without any anticipation of what to offer on the table.

Of course we all have our own way to tackle this idea-blockage problem. But does everyone really know how? Here’s a little tips on how to tackle idea-blockage!

Move your ass off of that table.

When we don’t know what to do, it’s most likely because we don’t have enough perspective to explore on. Human’s brain is one complex thing that needs constant change to see the bigger picture of many things. So when I’m stuck, I usually choose to take a walk around the house, move a little, and even do chores before going back to things I was supposed to originally do before—which is finishing the deadline of the work itself. Moving around helps your brain to process things better for it helps the flow of your blood.

Meet with people and actually talk

I find that meeting people helps me a lot in finding back my sanity when it comes to writing. Or any kind of creative thinking, really. Connecting ourselves with people somehow gives us perspective we’ve never known existed. Or even better, we could always make something new out of the conversation. Here in The Ambengan Tenten, I could always find that flexibility of connecting myself with people. The fresh-from-the-oven insight is something that we could always use to tackle this idea-blockage problem.

Make a mindmap of things you like

How could one find a great idea if everything else is scattered everywhere around? People always forget this step when we’re trying to find the perfect ideas to pitch. This particular brainstorming idea could be tricky if we don’t remind ourselves of the end goal of the project itself. So my little suggestion is: always make a mindmap of things you’re familiar with so you can always make a better pitching idea out of it. And of course, with a little help from this next step of…

Find references

It could be from nature, the internet, or even the next closest thing to you! I use Pinterest, Medium, or Quora for my own writing research. But there are a lot more references that you can use as an entrepreneur from the internet. Like I said before, we get different styles of working. Creativity is limitless as long as you can always put yourself in different angles. So always find your own reference before you let this blockage even happening on your part.

So tell me, what’s your own best solution to tackle idea-blockage?

The post How to Tackle Ideas-Blockage as An Entrepreneur? first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Rise of Indonesian Artists: Membawa TERUPA hingga Galeri Superlative https://www.theambengantenten.com/rise-of-indonesian-artists-membawa-terupa-hingga-galeri-superlative/ Wed, 24 Aug 2022 08:47:32 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3802 Setelah TERUPA Festival 2022 awal Agustus lalu, saya sempat berpikir bahwa TAT Art Space akan rehat sejenak dan menghilang dari peradaban komunitas sekitar. Sebagai satu dari sekian banyak yang selalu menantikan acara-acara kolaborasi TAT Art Space, tentunya saya kembali menunggu undangan mereka. Berada di sebuah ruang multifungsi yang merangkul banyak latar belakang tanpa terkecuali menjadi […]

The post Rise of Indonesian Artists: Membawa TERUPA hingga Galeri Superlative first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Setelah TERUPA Festival 2022 awal Agustus lalu, saya sempat berpikir bahwa TAT Art Space akan rehat sejenak dan menghilang dari peradaban komunitas sekitar. Sebagai satu dari sekian banyak yang selalu menantikan acara-acara kolaborasi TAT Art Space, tentunya saya kembali menunggu undangan mereka. Berada di sebuah ruang multifungsi yang merangkul banyak latar belakang tanpa terkecuali menjadi salah satu hal yang saya senang dari tempat ini.

TAT Art Space, sama seperti misi awalnya, masih menginginkan sebuah ruang hangat untuk siapa saja yang ingin berkarya. Dengan exhibition room dan juga collaborator room yang mereka sediakan, tentunya menjadi opportunity tersendiri bagi mereka pelaku seni di Bali. Kolaborasi demi kolaborasi berhasil mengangkat TAT Art Space hingga terdengar banyak orang sampai saat ini. Dan benar saja, setelah TERUPA Festival 2022 yang digelarnya tempo hari, TAT Art Space kembali mengingatkan kita akan eksistensinya.

Kali ini, TAT Art Space seakan mencari ruang baru untuk mengudara. Tepat tanggal 20 Agustus 2022 lalu, seluruh karya teman-teman kreator muda berbakat dari seluruh Indonesia yang dipamerkan pada TERUPA Festival 2022 kemarin kembali dipamerkan secara digital di Galeri Superlative yang berlokasi di Legian, Kuta. Kolaborasi ini tentunya bertujuan untuk mengapresiasi karya teman-teman kreator. Tak sampai di sana saja, kolaborasi TAT Art Space dan Superlative Secret Society juga merupakan kolaborasi gabungan bersama Robomot NFT yang juga merupakan proyek kolektif kreator-kreator lokal.

Dengan tajuk “Rise of Indonesian Artists”, acara hari itu seakan membawa kita ke sebuah ruang lain di mana siapa saja bisa menikmati karya-karya anak bangsa yang sudah berkancah di dunia NFT. Lebih dari 70 karya dipamerkan di Galeri Superlative hingga 26 Agustus 2022 nanti. Jadi bagi siapa pun yang belum sempat hadir dan melihat-lihat, silakan datang ke Galeri Superlative!

The post Rise of Indonesian Artists: Membawa TERUPA hingga Galeri Superlative first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Majalabs: dari VR Experience hingga Bali Digital Fashion Week 2022 https://www.theambengantenten.com/majalabs-dari-vr-experience-hingga-bali-digital-fashion-week-2022/ Tue, 23 Aug 2022 05:28:53 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3797 Di tengah gemblengan dunia teknologi yang kian hari kian berkembang, kita semua butuh sumber terbaik untuk tidak ketinggalan. Terlebih dengan banyaknya inovasi yang ada, tiap-tiap kita seakan dipaksa untuk bisa beradaptasi secepat yang kita bisa. Tapi bagaimana apabila kita tidak memiliki sumber-sumber tersebut untuk belajar? Pada acara TERUPA Festival (6/8/20) yang digelar oleh The Ambengan […]

The post Majalabs: dari VR Experience hingga Bali Digital Fashion Week 2022 first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Di tengah gemblengan dunia teknologi yang kian hari kian berkembang, kita semua butuh sumber terbaik untuk tidak ketinggalan. Terlebih dengan banyaknya inovasi yang ada, tiap-tiap kita seakan dipaksa untuk bisa beradaptasi secepat yang kita bisa. Tapi bagaimana apabila kita tidak memiliki sumber-sumber tersebut untuk belajar?

Pada acara TERUPA Festival (6/8/20) yang digelar oleh The Ambengan Tenten, ada banyak ilmu baru terkait teknologi yang bisa kita dapatkan di sana. Salah satu yang menarik bagi saya ialah booth Majalabs yang menyediakan VR Experience pada acara tersebut. Selain untuk entertainment, VR Experience yang mereka berikan juga merupakan sebentuk edukasi untuk teman-teman yang belum sepenuhnya memahami tentang penggunaan teknologi yang dapat diimplementasikan dalam banyak hal.

“Kita hanya ingin mengedukasi teman-teman tentang pentingnya membuka mata terhadap perkembangan dunia. Teknologi kita mungkin belum se-futuristik itu, tapi nggak ada salahnya ‘kan untuk mencoba keep up dengan dunia?” Begitu tutur Rizal selaku juru bicara Majalabs.

Tak hanya edukasi berbasis VR Experience saja, teman-teman Majalabs juga menuturkan tentang kampanye proyek terbarunya yakni Bali Digital Fashion Week 2022 yang akan digelar pada Oktober nanti. Proyek ini tentunya menggandeng salah seorang fashion designer kenamaan, Schieva yang akan menjadi designer utamanya. Yang menarik dari proyek satu ini ialah fashion show yang berbasis digital, di mana semua orang bisa menikmatinya dari mana saja.

Tak sampai di sana saja, Majalabs juga akhirnya mengumumkan pemenang dari NFT Pitch Bali yang digelar beberapa waktu sebelumnya di The Ambengan Tenten. Dari kelima finalis terpilih, ternyata proyek NFT Perkasa oleh Pak Bagong Soebardjo, seorang pengrajin wayang asal Jogja yang menjadi pemenangnya. Pemenang dari NFT Pitch Bali ini nantinya akan didukung sepenuhnya oleh Majalabs dan banyak pihak lain dalam pendanaan, coaching, serta implementasi roadmap dari proyeknya.

Banyak ilmu menarik tentunya bisa kita dapat secara cuma-cuma. Tapi menurut saya, tak banyak orang baik yang mau membagi ilmunya secara cuma-cuma. Hari itu, saya belajar mengenai banyak hal. Berkat Majalabs dan segudang ilmu menariknya, saya rasa sudah saatnya kita membuka diri terhadap perkembangan teknologi yang tak bisa kita hindari lagi.

Klik tautan berikut ini untuk mendapatkan info terbaru mengenai Majalabs.

The post Majalabs: dari VR Experience hingga Bali Digital Fashion Week 2022 first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Aghumi: Mengemas Tarot dalam Konsep Teatrikal https://www.theambengantenten.com/aghumi-mengemas-tarot-dalam-konsep-teatrikal/ Mon, 22 Aug 2022 11:19:32 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3793 Sebagai seorang penggemar tarot, tentunya menarik untuk selalu mengulik makna di balik setiap kartu yang ada. Menurut saya, selalu ada cerita yang bisa kita rasakan dari masing-masing kartunya. Berbicara mengenai kartu tarot, saya rasa saya bisa menghabiskan semalam suntuk hanya untuk yang satu ini. Dan tentu saja, ketika saya tau ada pementasan seni yang mengangkat […]

The post Aghumi: Mengemas Tarot dalam Konsep Teatrikal first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Sebagai seorang penggemar tarot, tentunya menarik untuk selalu mengulik makna di balik setiap kartu yang ada. Menurut saya, selalu ada cerita yang bisa kita rasakan dari masing-masing kartunya. Berbicara mengenai kartu tarot, saya rasa saya bisa menghabiskan semalam suntuk hanya untuk yang satu ini. Dan tentu saja, ketika saya tau ada pementasan seni yang mengangkat kartu tarot dalam ceritanya, saya tak buang waktu untuk datang dan melihat secara langsung.

Pada TERUPA Festival (5/8/20) lalu, sebuah komunitas seni yang saya kenal di The Ambengan Tenten, Aghumi, membuka acara hari itu dengan sebuah teatrikal yang mengusung cerita mengenai kartu The Fool. Sebagai kartu pertama Major Arcana dalam tarot, tentunya kartu The Fool menyimpan makna tersendiri. Saya pribadi selalu merasa bahwa kartu ini ibarat seorang anak kecil naif yang memimpikan dunia. Matanya yang haus akan banyak sisi kehidupan selalu membawanya menjadi sosok idealis nan polos yang terkadang dianggap bodoh.

Selain kartu The Fool, pementasan yang bertajuk “The Fool: Pelesiran Wayang-wayangan” ini juga diilhami oleh seorang perupa tersohor, Ni Tanjung yang memiliki idealisme tinggi terkait seni yang berhasil mengubah cara pandang banyak mata mengenai seni global. The Fool yang juga melambangkan awal mula kehidupan ini memiliki makna di mana semua yang bermula dari titik nol merupakan perlambang dari unsur-unsur keterbatasan yang justru memberikan esensi keutuhan entitas diri. Dalam keterbatasannya, semua orang mampu menciptakan perubahan sederhana yang dimulai dari dirinya.

Yang paling menarik dari pementasan satu ini, Aghumi berhasil memboyong teman-teman dari komunitas Teater Petir, Teater Sangsaka, Teater Loak, dan Narwastu Austism Learning Awareness untuk ikut andil dalam acara ini. Beberapa properti pentas yang digunakan juga merupakan hasil kerajinan tangan dari teman-teman autis dari Narwastu. Dedikasi Aghumi rasa-rasanya memang harus diacungi jempol, terlebih bagaimana mereka mampu mengajarkan seni kepada anak-anak berusia 5-15 tahun untuk mengekspresikan dirinya melalui seni itu sendiri.

Seperti apa yang dituturkan oleh Tika, salah seorang teman dari Aghumi, rasa-rasanya memang dunia butuh ruang lebih besar untuk kita memberikan pengakuan lebih baik kepada orang-orang di sekitar. Sekecil apa pun perjuanganmu, kau patut untuk diapresiasi sebagaimana mestinya. Sesederhana apa pun mimpimu, kau berhak untuk percaya bahwa mimpi akan membawamu mendunia.

Pembukaan acara TERUPA Festival terasa semakin hangat kala pementasan teatrikal itu telah usai. Tak lupa performance pendukung dari teman-teman SIJI dan musik tradisional oleh Yasa Balinese Music, sore itu semakin romantis kala tiap manusia saling mengoneksikan dirinya di TAT Art Space. Dan menurut saya, tak ada yang lebih menarik ketimbang diingatkan bahwa tiap-tiap kita memberikan perbedaan dengan caranya masing-masing.

Aghumi berhasil menyulap sebuah filosofi sederhana menjadi sebuah pementasan yang tak kalah luar biasa. Di balik itu semua, mungkin kita pun perlu mengingatkan diri bahwa hidup akan selalu baik-baik saja apabila kita mau percaya pada mimpi yang kita punya.

The post Aghumi: Mengemas Tarot dalam Konsep Teatrikal first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
TERUPA Festival: Ekshibisi NFT yang Mengusung Konsep Tersendiri https://www.theambengantenten.com/terupa-festival-ekshibisi-nft-yang-mengusung-konsep-tersendiri/ Fri, 19 Aug 2022 05:58:04 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3789 Ketika mendengar kata “festival”, siapa pun pasti akan membayangkan sebuah acara megah padat aktivitas. Dengan ideal waktu berlangsungnya selama beberapa hari, pengunjung dapat menikmati seharian berkegiatan dan bersenang-senang. Begitu ‘kan yang kebanyakan dari kita pikirkan? Tentunya, saya pun membayangkan hal serupa. Setelah beberapa waktu tak terdengar kabarnya, The Ambengan Tenten kembali hadir dengan inovasi menariknya. […]

The post TERUPA Festival: Ekshibisi NFT yang Mengusung Konsep Tersendiri first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Ketika mendengar kata “festival”, siapa pun pasti akan membayangkan sebuah acara megah padat aktivitas. Dengan ideal waktu berlangsungnya selama beberapa hari, pengunjung dapat menikmati seharian berkegiatan dan bersenang-senang. Begitu ‘kan yang kebanyakan dari kita pikirkan? Tentunya, saya pun membayangkan hal serupa.

Setelah beberapa waktu tak terdengar kabarnya, The Ambengan Tenten kembali hadir dengan inovasi menariknya. Kali ini, The Ambengan Tenten menghadirkan sebuah festival bertajuk “TERUPA”. Berasal dari kata “terupa” atau yang berarti “tampak”, menurut filosofinya merupakan makna dari penyatuan indera, pikiran, dan juga jiwa. Sedikit menggelitik tentunya apabila merunut dari namanya, tapi sangat menarik untuk dicaritahu.

Festival yang ternyata merupakan ekshibisi NFT (Non-Fungible Token) ini menghadirkan 70 karya NFT dari 70 seniman digital yang berbeda. Menariknya, 70 karya ini diekshibit dalam bentuk fisik yang dicetak pada media kanvas. Karya-karya ini tentunya merupakan karya terpilih yang sudah dikurasi dan merupakan karya seniman-seniman muda berbakat dari berbagai penjuru Indonesia. Tak hanya ekshibisi saja, ada pula beragam aktivitas menarik yang disuguhkan selama 3 hari acara ini berlangsung—mulai dari talkshow, food truck, hingga workshop yang terbuka untuk umum.

Seperti acara yang sudah-sudah, pembukaan acara kali itu kembali didukung oleh teman-teman dari komunitas seni Aghumi yang mementaskan karya teatrikal. Tak lupa didukung oleh banyak teman-teman komunitas seperti Majalabs, Superlative Secret Society, HNS, serta Rotybroi—semua seakan memberikan waktunya secara cuma-cuma untuk ikut memeriahkan acara tersebut. Menariknya lagi, saya jadi mengenal banyak sekali teman-teman komunitas di tengah gempitanya acara TERUPA.

Ketiga hari acara berlangsung, saya melihat bagaimana semua orang saling membantu, terkoneksi, mengapresiasi setiap karya masing-masing. Ada banyak kreator yang bahkan saya temui jauh-jauh datang ke Bali hanya untuk melihat karya mereka dipamerkan pada acara ini. Animo yang lagi-lagi berhasil disuguhkan oleh The Ambengan Tenten rasa-rasanya harus kembali saya acungi jempol.

Dan sekali lagi, saya masih menanti acara semacam apa lagi yang akan dihadirkan oleh ruang ini.

The post TERUPA Festival: Ekshibisi NFT yang Mengusung Konsep Tersendiri first appeared on The Ambengan Tenten.]]>