art space bali | The Ambengan Tenten https://www.theambengantenten.com Work & Life Balance Wed, 31 May 2023 04:05:56 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.8.13 Solo Exhibition by Hajriansyah Brings New Nuances to Art in Bali https://www.theambengantenten.com/solo-exhibition-by-hajriansyah-brings-new-nuances-to-art-in-bali/ Sat, 20 May 2023 04:00:15 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4498 Denpasar, Bali – An artist from Banjarmasin, South Kalimantan, Hajriansyah, has held his first solo exhibition after an 8-year hiatus from the art world. Hajriansyah, who is also the Chairman of the Banjarmasin City Art Council and an alumnus of ISI Jogja in the 80s, has found a new passion for creating art and presented […]

The post Solo Exhibition by Hajriansyah Brings New Nuances to Art in Bali first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Denpasar, Bali – An artist from Banjarmasin, South Kalimantan, Hajriansyah, has held his first solo exhibition after an 8-year hiatus from the art world. Hajriansyah, who is also the Chairman of the Banjarmasin City Art Council and an alumnus of ISI Jogja in the 80s, has found a new passion for creating art and presented 20 unique artworks in an exhibition titled “Love Life Lite”.

The exhibition was held at TAT Art Space, an art space in The Ambengan Tenten, Denpasar, Bali. With the exhibition period starting from May 12 to May 25, 2023, Love Life Lite provided a platform for Hajriansyah to express his latest ideas. In his works, Hajriansyah combines cultural themes and local wisdom of the Banua Land with surreal touches using large brushes.

The exhibition opening was highlighted by an opening speech from TAT founder, Kinno Thingker, as well as remarks from Yurison Suryantara, TAT Art Space manager, and Bagus Gonk, a well-known artist who also acted as art curator. Their presence added to the uniqueness of the Love Life Lite exhibition, showing appreciation for Hajriansyah’s artwork and providing deeper insights into the messages that the artist wants to convey.

In this exhibition, visitors can enjoy the beauty and complexity in each displayed artwork. Hajriansyah successfully captured the essence of Tanah Banua culture and local wisdom, presenting them in a stunning visual form. By combining surreal elements, he provides a new perspective that enriches the experience of viewing art.

Not only that, the Love Life Lite exhibition also featured a Poetry Musicalization performance by Hajriansyah and his colleagues. The combination of poetic words and the rhythm of “Sape Dayak” music is expected to create a deeper experience for visitors. Through a combination of visual art, music, and poetry, this exhibition provides an opportunity for the audience to fully experience and appreciate Hajriansyah’s artworks.

Hajriansyah hopes that this exhibition can inspire people to appreciate the richness of local culture and see the world from a broader perspective. In Love Life Lite, he invites visitors to contemplate, dream, and explore the imaginative world created through his artworks. This exhibition proves that art has the power to unite people from different backgrounds and build bridges between cultures.

The post Solo Exhibition by Hajriansyah Brings New Nuances to Art in Bali first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Jakarta Film Week Organizes Screening and Film Collaboration Discussion Event with Bukan Biasa and TAT Art Space https://www.theambengantenten.com/jakarta-film-week-organizes-screening-and-film-collaboration-discussion-event-with-bukan-biasa-and-tat-art-space/ Fri, 19 May 2023 03:46:24 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4492 Denpasar, Bali – Jakarta Film Week, in collaboration with Bukan Biasa and TAT Art Space, is holding an exciting film screening and discussion event at TAT Art Space. The event will take place over two days, from April 28th to 29th, 2023. TAT Art Space, a creative space located in The Ambengan Tenten Denpasar Bali, […]

The post Jakarta Film Week Organizes Screening and Film Collaboration Discussion Event with Bukan Biasa and TAT Art Space first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Denpasar, Bali – Jakarta Film Week, in collaboration with Bukan Biasa and TAT Art Space, is holding an exciting film screening and discussion event at TAT Art Space. The event will take place over two days, from April 28th to 29th, 2023. TAT Art Space, a creative space located in The Ambengan Tenten Denpasar Bali, is the perfect venue for hosting this event.

This edition of Jakarta Film Week will showcase a total of 30 local films that will be screened over the course of two full days. Event participants will have the opportunity to enjoy a variety of film genres, ranging from drama to documentaries, produced by local Indonesian filmmakers. The aim is to promote and advance the Indonesian film industry while appreciating the creative and diverse local works.

In addition to film screenings, the event also offers in-depth discussions about the films being shown. The discussions will involve filmmakers, directors, and actors/actresses involved in the production of those films. This provides an opportunity for participants to gain a deeper understanding of the creative process and challenges faced by filmmakers in the Indonesian film industry.

Jakarta Film Week has become an important platform for promoting and advancing the Indonesian film industry. The event provides opportunities for young filmmakers to expand their networks, collaborate, and introduce their works to a wider audience. Furthermore, the event is also expected to inspire and motivate the younger generation to engage in the film industry.

Bukan Biasa, as a collaborative partner in this event, is an online platform that focuses on promoting and distributing Indonesian indie films. By partnering with Jakarta Film Week, Bukan Biasa hopes to expand its audience reach and enhance appreciation for local indie films.

TAT Art Space, as the host venue, is an ideal place to hold such an event. As a creative space, TAT Art Space supports the development of arts and culture, including the film industry. With an inspiring atmosphere and adequate facilities, TAT Art Space creates a unique experience for the participants of Jakarta Film Week.

It is hoped that this collaborative film screening and discussion event by Jakarta Film Week will make a significant contribution to promoting and raising awareness among the public about Indonesian, local film works. With a variety of films being screened and in-depth discussions, the event is expected to build a greater appreciation for the Indonesian film industry and inspire the younger generation to actively participate in this industry.

The post Jakarta Film Week Organizes Screening and Film Collaboration Discussion Event with Bukan Biasa and TAT Art Space first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
TAT Art Space dan Mikroskopik oleh Hamka Visualisasikan Kejujuran https://www.theambengantenten.com/tat-art-space-dan-mikroskopik-oleh-hamka-visualisasikan-kejujuran/ Sun, 12 Feb 2023 08:27:15 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4223 Jumat (10/02) lalu, TAT Art Space kembali meramaikan skena seni Denpasar dengan satu lagi pameran yang sangat berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya. Mengusung tema wahana, pameran bertajuk “Mikroskopik” ini merupakan hasil buah pikir Hamka, seorang seniman asal Malang yang membawakan gaya realisme dalam bentuk abstrak. Mengenal seorang Hamka jauh sebelum pembukaan pamerannya yang kali ini, saya […]

The post TAT Art Space dan Mikroskopik oleh Hamka Visualisasikan Kejujuran first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Jumat (10/02) lalu, TAT Art Space kembali meramaikan skena seni Denpasar dengan satu lagi pameran yang sangat berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya. Mengusung tema wahana, pameran bertajuk “Mikroskopik” ini merupakan hasil buah pikir Hamka, seorang seniman asal Malang yang membawakan gaya realisme dalam bentuk abstrak.

Mengenal seorang Hamka jauh sebelum pembukaan pamerannya yang kali ini, saya merasa Hamka berhasil membawakan sesuatu yang jauh sangat berbeda walau tetap dengan gayanya yang melekat di kepala. Berdasarkan penuturan Hamka sendiri, 16 karya yang dipamerkan ini merupakan hasil kejujuran hati yang dirasakannya selama menjalani kehidupan setelah pandemi 3 tahun belakangan. Dengan ciri khasnya yang tetap konsisten menggunakan cat UV, Hamka mencoba mengemas setiap bentuk makro kehidupan dalam bentuk mikroskopik yang lebih abstrak. Sebagai seorang seniman yang lebih dikenal dengan gaya realismenya, pameran “Mikroskopik” ini tentunya berhasil mendobrak stigma masyarakat mengenai citra seorang Hamka yang memamerkan abstraksi tersendiri dalam karya-karyanya kali ini.

Sebelum Mikroskopik resmi dibuka, pemutaran dokumenter singkat bertajuk serupa yang digarap oleh Taktik Berulah ini juga berhasil memberikan perspektif tersendiri bagi masyarakat mengenai proses berpikir seorang Hamka selama pengerjaan 16 karya barunya tersebut. Disebut-sebut sebagai wahana, pameran Hamka kali ini mencoba membawa setiap mata yang melihat untuk menginterpretasikan sendiri setiap karyanya dengan banyak cara. Ruang gelap yang ditata sedemikian rupa berhasil membuat saya dan setiap undangan yang hadir berdecak kagum ketika berada di ruang pameran TAT Art Space. Ketika berbicara langsung dengan Hamka, ia menuturkan bahwa tiap-tiap karya dalam pameran ini pun dapat dinikmati dengan 3 cara berbeda—ketika ruangan terang, ketika disorot oleh lampu UV, serta ketika ruangan gelap total. Menurut saya pribadi, tentunya karya-karya ini membuat interpretasi yang muncul menjadi begitu luas dan liar bagi setiap mata yang menikmatinya.

Dalam pameran ini, Hamka pun berharap bahwa tiap-tiap mata yang melihat mampu menjadi lebih jujur dengan dirinya sendiri, sebagaimana diri Hamka yang telah berhasil menjadi lebih jujur selama prosesnya berkarya. Pameran ini mengajak siapa pun yang melihat untuk terkoneksi sekali lagi dengan dirinya sendiri melalui permainan interpretasi bentuk dalam karya-karya Hamka yang nampak abstrak sesuai apa yang dilihat matanya. Dan harus saya akui, Mikroskopik berhasil membuat saya kembali berkaca dengan apa yang saya rasa melalui karya-karya yang ada.

Sekali lagi, seperti yang sudah-sudah, TAT Art Space berhasil membawa para undangan yang hadir bermain-main dengan dirinya. Mikroskopik masih dibuka untuk umum hingga 24 Februari 2023 mendatang di TAT Art Space by The Ambengan Tenten, Jl. Imam Bonjol Gg. Rahayu no. 16A, Denpasar.

The post TAT Art Space dan Mikroskopik oleh Hamka Visualisasikan Kejujuran first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Meniti Perjalanan Diri Melalui Niti Windu di TAT Art Space https://www.theambengantenten.com/meniti-perjalanan-diri-melalui-niti-windu-di-tat-art-space/ Mon, 16 Jan 2023 09:00:15 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4153 Jumat (13/01) lalu, TAT Art Space by The Ambengan Tenten kembali membuka pintunya untuk publik dalam pembukaan pameran solo Budi Kampret, seorang seniman asal Ngawi yang mengusung tajuk “Niti Windu”. Budi Kampret sendiri mengakui bahwa pameran solonya kali ini merupakan rangkuman perjalanan hidup yang dirasakannya selama pandemi melanda hingga akhirnya beliau mampu menghasilkan banyak karya […]

The post Meniti Perjalanan Diri Melalui Niti Windu di TAT Art Space first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Jumat (13/01) lalu, TAT Art Space by The Ambengan Tenten kembali membuka pintunya untuk publik dalam pembukaan pameran solo Budi Kampret, seorang seniman asal Ngawi yang mengusung tajuk “Niti Windu”. Budi Kampret sendiri mengakui bahwa pameran solonya kali ini merupakan rangkuman perjalanan hidup yang dirasakannya selama pandemi melanda hingga akhirnya beliau mampu menghasilkan banyak karya yang merepresentasikan jiwa-jiwa terkungkung pascapandemi COVID-19.

Budi Kampret yang lebih akrab menggunakan arang sebagai media utamanya dalam berkesenian pun mengakui bahwa pamerannya kali ini merupakan tantangan tersendiri baginya mengingat bagaimana dirinya harus kembali menggunakan cat akrilik dan kanvas sebagai media bermainnya. Tak dapat dimungkiri, karya-karya ciamiknya pada pameran Niti Windu kali ini  pun memberikan sentimental tersendiri baginya. Tak lupa dengan pertunjukan wayang koran bertajuk “Lawat Tresne” yang didalangi oleh Budi Kampret sendiri, Budi mencoba menyuguhkan narasi budaya yang bersifat terbuka bagi penonton yang ingin menginterpretasikan maknanya.

Yurison Suryantara, selaku Manager TAT Art Space juga mengakui bahwa ini adalah pameran solo kedua yang banyak mengusung kebudayaan Jawa di dalamnya. Melalui narasi Niti Windu sendiri, baik pengunjung ataupun kolektor seni yang ada diajak bersama-sama untuk menelisik lebih jauh terkait dengan apa yang masing-masing dari mereka rasakan. Berkaca pada karya seni yang bersifat terbuka dalam pemaknaannya, sekali lagi TAT Art Space mampu memberikan warna baru pada skena seni Denpasar.

Pameran Niti Windu sendiri masih akan dibuka untuk publik hingga Jumat, 27 Januari 2023 mendatang di TAT Art Space by The Ambengan Tenten.

 

Silakan kunjungi katalog Niti Windu pada tautan berikut.

The post Meniti Perjalanan Diri Melalui Niti Windu di TAT Art Space first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
HNS Studio dan Mimpinya yang Bertajuk “Local Hero” https://www.theambengantenten.com/hns-studio-dan-mimpinya-yang-bertajuk-local-hero/ Mon, 31 Oct 2022 06:02:00 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3853   \Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Jumat lalu (28/10) The Ambengan Tenten kembali menggelar pembukaan pameran untuk kesekian kalinya. Yang membuat saya sedikit tergelitik ialah tema pameran yang diusungnya bertajuk “Local Hero”. Entah apa yang ingin disampaikannya pada pameran kali ini. Namun berbeda dari ekshibisi sebelumnya yang memamerkan sederet karya pribadi seorang visual/street artist, pameran […]

The post HNS Studio dan Mimpinya yang Bertajuk “Local Hero” first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

 

\Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Jumat lalu (28/10) The Ambengan Tenten kembali menggelar pembukaan pameran untuk kesekian kalinya. Yang membuat saya sedikit tergelitik ialah tema pameran yang diusungnya bertajuk “Local Hero”. Entah apa yang ingin disampaikannya pada pameran kali ini. Namun berbeda dari ekshibisi sebelumnya yang memamerkan sederet karya pribadi seorang visual/street artist, pameran kali ini merupakan karya kolektif dari sebuah studio asal Tampaksiring, Gianyar.

HNS Studio adalah sebuah studio desain hasil mimpi seorang seniman lokal kenamaan yang lebih akrab disapa Raka Jana. Dan ketika ditanya mengapa pameran kali ini tidak membawa namanya saja, Raka Jana beranggapan bahwa semua ini bukanlah hanya mimpinya seorang. Melainkan mimpi teman-teman dari HNS Studio juga. Terkait tajuk yang diusungnya, Raka Jana pun mengingatkan kita semua untuk selalu menemukan inspirasi dari hal-hal terdekat di sekitar kita. “Local Hero” seakan hadir sebagai pengingat bahwa mimpi hanyalah mimpi tanpa mereka yang memberikan dukungannya untuk kita. Dan siapa sangka juga? Pada pameran kali ini, Raka Jana membawa serta sudut kamar indekosnya sebagai bentuk memorabilia bahwa sebuah mimpi dapat menjadi realita juga.

Hal yang sama tentunya juga dirasakan oleh seluruh tim HNS Studio—bahwasanya pahlawan menurut versi mereka ialah orang-orang yang sangat menginspirasi dalam berkarya. Ekosistem yang terbangun di dalamnya pun telah berhasil menginspirasi masing-masing dari mereka dan menjadikannya pahlawan versi mereka sendiri. Hal ini dapat dilihat dari kerjasama segenap tim HNS Studio pada hari pembukaan pameran “Local Hero” berlangsung.

Raka Jana mungkin memiliki nama besarnya sendiri. Namun yang membuat saya berdecak kagum ialah keinginannya untuk membagi spotlight yang sama agar baik dirinya maupun HNS Studio bisa menjadi besar bersama. Sederet karya yang dipamerkan pada ekshibisi kali ini tentunya merupakan hasil jerih payah teman-teman HNS Studio. Dan dengan dicoretnya papan pembukaan hari itu, publik dapat menikmati karya-karya HNS Studio dan Raka Jana hingga 2 minggu ke depan sampai tanggal 12 November mendatang.

“Local Hero” resmi dibuka oleh Raka Jana (28/10)

Sekali lagi, TAT Art Space mampu memberikan saya perspektif baru lainnya. Dan sejujurnya, saya tidak sabar menantikan kejutan pameran-pameran mereka selanjutnya.

The post HNS Studio dan Mimpinya yang Bertajuk “Local Hero” first appeared on The Ambengan Tenten.]]>
Reflection: Serentetan Karya Seni yang Membuat Kita Berefleksi https://www.theambengantenten.com/reflection-serentetan-karya-seni-yang-membuat-kita-berefleksi/ Mon, 10 Oct 2022 03:05:21 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=3849 Siapa sangka visual artist yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui namanya ternyata merupakan seniman papan atas yang karyanya sudah mendunia? Fivust adalah nama yang asing untuk saya pada awalnya. Namun usut punya usut, Jumat lalu TAT Art Space kembali membuka galerinya untuk publik dan memamerkan sejumlah karya milik Fivust bertajuk “Reflection”. Yang menarik, ini adalah […]

The post Reflection: Serentetan Karya Seni yang Membuat Kita Berefleksi first appeared on The Ambengan Tenten.]]>

Foto oleh Fivust

Siapa sangka visual artist yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui namanya ternyata merupakan seniman papan atas yang karyanya sudah mendunia?

Fivust adalah nama yang asing untuk saya pada awalnya. Namun usut punya usut, Jumat lalu TAT Art Space kembali membuka galerinya untuk publik dan memamerkan sejumlah karya milik Fivust bertajuk “Reflection”. Yang menarik, ini adalah kali pertama TAT Art Space membuka pintunya untuk street artist yang seringkali diremehkan dan dianggap tidak sejalan dengan seni kontemporer kebanyakan. Fivust adalah seorang visual artist yang muralnya sudah ada di banyak negara—mulai dari Jepang, Australia, bahkan hingga Rusia. Dan untuk pertama kalinya, Fivust menggelar pameran solonya di Indonesia, tepatnya di TAT Art Space by The Ambengan Tenten, Bali.

“Reflection”, menurut Fivust sendiri, merupakan perwujudan dan citra yang muncul dari dalam dirinya setelah mengakhiri suatu babak kehidupan. Tajuk ini dipilih berdasarkan gejolak yang dirasakannnya terhadap ketidakpastian pandemi. Dengan pameran ini, Fivust bermaksud menggelitik setiap penikmat seni untuk melirik urgensi dan melihat kembali ke cermin sembari menikmati perubahan besar dan kecil yang muncul selama masa pandemi dan pascapandemi. Lebih dari 15 karya dipamerkan mulai dari patung, karya kanvas, hingga instalasi yang merupakan serentetan karya yang diproduksinya selama masa pandemi (2020-2022).

Dari sudut pandang Fivust, tentunya pandemi juga berhasil mempengaruhi proses kreatifnya dalam berkarya. Keterpaksaan untuk menahan dan merefleksikan diri lebih jauh telah menghasilkan karya dengan cita rasa yang berbeda. Lebih mendalam dan bergema, tanpa dibatasi oleh fragmen waktu. Selain menghadirkan karya dengan ide, teknik, dan tampilan baru yang diciptakan sebagai respon visual terhadap identitas, “Reflection” juga akan memberikan kesempatan kepada penonton untuk merenungkan apa yang telah kita lalui dan bagaimana kita harus menghadapinya. Diri kita saat ini adalah perayaan dari apa yang telah kita lalui sebagai sebagai seorang individu di masa lalu.

Kala Jumat itu melarut dalam pembukaan “Reflection”, saya bisa melihat ada banyak wajah baru yang turut bersukacita atas satu lagi pencapaian teman seniman kita. Tak lupa dengan live painting oleh Fivust yang menambah decak kagum para undangan yang hadir, kehadiran Fivust pada TAT Art Space memberikan kesan akrab yang mampu melepaskan stigma-stigma tersendiri terhadap teman-teman street/visual artist di luar sana. Dan sekali lagi, TAT Art Space berhasil membangun ruangnya dengan aktivasi menarik yang mampu membuat setiap mata meliriknya. Tentunya, saya yakin siapa pun yang hadir setuju dengan saya.

Mungkin memang ada baiknya apabila hal-hal sederhana bisa membuat kita terus berkaca akan perkembangan diri kita. Untuk siapa pun yang membaca tulisan ini, apabila kalian belum sempat hadir kemarin, silakan datang dan rasakan magisnya sebuah karya yang mampu mengubah perspektif kita. “Reflection” oleh Fivust masih dapat dinikmati hingga 21 Oktober 2022 nanti.

Selamat menikmati karya seni, selamat berefleksi.

The post Reflection: Serentetan Karya Seni yang Membuat Kita Berefleksi first appeared on The Ambengan Tenten.]]>