Life Style | The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website https://www.theambengantenten.com Work & Life Balance Mon, 15 May 2023 03:28:17 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.8.13 VESCOFART: Intimasi Sebuah Acara Melalui Seni, Kopi, dan Vespa https://www.theambengantenten.com/id/vescofart-intimasi-sebuah-acara-melalui-seni-kopi-dan-vespa-2/ Mon, 15 May 2023 03:28:06 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4437 Sejak kecil, saya tumbuh dekat dengan kecintaan beberapa anggota keluarga terhadap Vespa. Dulu, Ayah serta Kakek saya adalah seorang kolektor Vespa. Dan yang menarik, komunitas Vespa yang mereka ikuti lantas menjadi keluarga kecil tersendiri untuk saya. Setelah saya dewasa, tentunya ada sentimen tersendiri yang masih melekat dalam ingatan saya ketika berbicara mengenai Vespa. Beberapa waktu […]

The post VESCOFART: Intimasi Sebuah Acara Melalui Seni, Kopi, dan Vespa first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>

Mangun Edwin, Hamka, dan Wilman Hermana untuk VESCOFART, The Ambengan Tenten (10/06/22)

Sejak kecil, saya tumbuh dekat dengan kecintaan beberapa anggota keluarga terhadap Vespa. Dulu, Ayah serta Kakek saya adalah seorang kolektor Vespa. Dan yang menarik, komunitas Vespa yang mereka ikuti lantas menjadi keluarga kecil tersendiri untuk saya. Setelah saya dewasa, tentunya ada sentimen tersendiri yang masih melekat dalam ingatan saya ketika berbicara mengenai Vespa.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan hadir dalam satu lagi acara yang digelar oleh The Ambengan Tenten dalam rangka memeriahkan Vespa World Days 2020-2022 yang berlangsung di Bali. Tentu saja, saya lantas hadir tanpa tedeng aling-aling. Yang menarik dari acara bertajuk VESCOFART ini, mereka menyatukan banyak kalangan melalui kecintaan mereka yang sama terhadap Vespa. Lintas kalangan yang diundang pun tidak main-main. Salah seorang pemahat kenamaan ibu kota, Wilman Hermana, yang merupakan artis pemahat patung Gatotkaca untuk film laga Jagad Satria Dewa: Gatotkaca (Bramantyo, 2022) pun turut hadir dalam acara hari itu. Tak hanya beliau saja, seorang antusias kopi kenamaan asal Bandung, Mangun Edwin serta seorang seniman lokal Bali kenamaan, Hamka juga turut diundang untuk sekadarnya berbincang bersama.

Wilman Hermana bersama patung Gatotkaca untuk film laga Jagad Satria Dewa: Gatotkaca (Bramantyo, 2022)

Yang saya ketahui, Mangun Edwin beserta kawan-kawan pun melakukan riding bersama dari Bandung hingga Bali. Melihat beberapa cuplikan video perjalanan Mangun ber-Vespa ria dari pulau Jawa hingga pulau Bali membuat saya iri mengingat bagaimana saya pernah ikut serta Ayah dan Kakek untuk Vespa riding yang pernah mereka lakukan dulu. Pada hari acara VESCOFART berlangsung, Mangun pun mengambil alih bar Argos Specialita dengan 16 varian biji kopinya yang dibawa langsung dari Bandung. Ia membagikan kopi-kopi racikannya ini secara cuma-cuma dengan harapan dapat memeriahkan acara ini. Selain itu, Hamka pun membuka lapak melukisnya untuk siapa pun yang ingin melukis bersama hari itu. Di lain sudut The Ambengan Tenten, tempat ini pun berkesempatan untuk memamerkan pahatan Gatotkaca karya Wilman di area TAT Art Space.

Mangun Edwin meracik biji kopi yang dibawanya dari Bandung (Jum, 10/06/22)

Live painting bersama Hamka; mewarnai aksesoris motor Vespa (Jum, 10/06/22)

 

Sore itu, semua orang berkumpul sembari melukis dan meracik kopi bersama. Saya tidak melihat adanya kesenjangan apa pun walau mereka memiliki hobi yang berbeda. Toh, tiap-tiap orang yang datang tetap memiliki kecintaan yang sama terhadap Vespa. Begitu pun saya, ada sentimen tersendiri yang berhasil menarik saya untuk datang hari itu. Tak sampai di situ saja, seorang DJ kaset, Ferrite Head—yang ternyata juga pecinta Vespa—turut memeriahkan sore kami yang menyenangkan. Dengan musik-musik disko 90-an, ada sepercik ingatan masa muda yang menambah kehangatan acara sore itu.

Saya tak akan memungkiri bahwa The Ambengan Tenten berhasil menarik beberapa hati untuk tinggal lebih lama. Melalui VESCOFART, saya rasa semua setuju bahwa seni dan Vespa berhasil menciptakan intimasinya tersendiri. Di lain kesempatan nanti, saya ingin melihat intimasi serupa dari tempat ini.

The post VESCOFART: Intimasi Sebuah Acara Melalui Seni, Kopi, dan Vespa first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>
Road to Terupa: Sebuah Misi Humanis Seorang Raka Jana https://www.theambengantenten.com/id/road-to-terupa-sebuah-misi-humanis-seorang-raka-jana-2/ Mon, 15 May 2023 03:27:47 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4435   Di era serba digital ini, siapa sih yang tidak mengenal sosok Raka Jana? Seorang seniman muda lokal asal Tampaksiring ini mungkin adalah satu dari beberapa cerita sukses pemuda Bali yang berhasil mematahkan stigma. Kata orang tua, menggambar tak akan pernah memberikan hidup yang nyaman. Tapi siapa sangka bahwa Raka Jana berhasil mengubah hidupnya dan […]

The post Road to Terupa: Sebuah Misi Humanis Seorang Raka Jana first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>

 

Di era serba digital ini, siapa sih yang tidak mengenal sosok Raka Jana?

Seorang seniman muda lokal asal Tampaksiring ini mungkin adalah satu dari beberapa cerita sukses pemuda Bali yang berhasil mematahkan stigma. Kata orang tua, menggambar tak akan pernah memberikan hidup yang nyaman. Tapi siapa sangka bahwa Raka Jana berhasil mengubah hidupnya dan banyak orang di sekitarnya hanya dari menggambar saja?

Beberapa hari lalu, tim The Ambengan Tenten berkesempatan menyambangi HNS Studio milik kreator NFT lokal kenamaan Raka Jana yang berlokasi di Tampaksiring, Gianyar. Awalnya, tak banyak ekspektasi yang kala itu saya punya. Saya pikir, saya hanya perlu ikut datang, mendengarkan, lalu menulis satu lagi artikel untuk ruang multifungsi, The Ambengan Tenten ini. Tapi ternyata saya salah. Hari itu, ada banyak perspektif baru yang sebelumnya tak pernah saya tau.

Raka Jana memang hanyalah seorang anak desa biasa. Tapi saya bisa melihat mata hausnya akan dunia tak ada habis-habisnya. Pria berusia 31 tahun ini mengaku bahwa semua yang dimilikinya hari ini adalah sebentuk manifestasi Raka Jana kecil. Berbekal dari kecintaannya terhadap manga dan anime Jepang, Raka berhasil mengadopsinya ke dalam gaya menggambarnya yang disertai dengan beberapa kebudayaan Bali yang menjadi ciri khas seorang Rakajana.

Di luar kesuksesan proyek Baliverse NFT miliknya, tentunya ada misi humanis tersendiri yang ia bawa dalam diri. HNS (Hope Never Sleeps) Studio adalah sebuah studio kreatif yang dibangunnya sejak 2015 silam, jauh sebelum nama Raka Jana mengudara dalam dunia NFT. HNS Studio kini mempekerjakan lebih dari 30 tenaga lokal dengan harapan bahwa setiap orang yang mencari penghidupan melalui menggambar tak akan pernah lagi diremehkan. Yang menarik, ketika ditanya untuk memilih antara nama besar Raka Jana dan HNS Studio, tanpa pikir panjang beliau memilih HNS Studio sebagai jawabannya. Dari sini, tentunya kita bisa melihat ada misi lebih besar ketimbang sekadarnya nama besar.

Raka mengaku bahwa ada banyak impact yang ingin ia ciptakan melalui namanya. Sebagai seorang anak desa, ia ingin mengubah stigma dan membagi mimpi yang sama dengan orang-orang di luar sana. Dengan menjadi advisor Majalabs, Raka sudah membuat banyak kelas workshop terkait menggambar dan juga NFT sebagai bentuk timbal baliknya kepada hidup.

Hari itu, saya merasa terisi dengan diri sendiri. Saya pikir kita setuju bahwa tiap-tiap kita pasti punya mimpi yang ingin direalisasikan menjadi realita. Raka Jana mungkin sudah berhasil dengan caranya. Lalu, bukankah ini adalah waktunya untuk kita?Raka Jana akan hadir dalam acara Terupa: NFT Festival di The Ambengan Tenten awal Agustus nanti. Saya sudah merasakan magisnya isi kepala seorang Raka Jana. Esok mungkin adalah waktunya anda. Nantikan info lengkap mengenai Terupa: NFT Festival dan workshop day bersama Raka Jana di media sosial @ambengantenten.

 

 

 

The post Road to Terupa: Sebuah Misi Humanis Seorang Raka Jana first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>
TERUPA Festival: Ekshibisi NFT yang Mengusung Konsep Tersendiri https://www.theambengantenten.com/id/terupa-festival-ekshibisi-nft-yang-mengusung-konsep-tersendiri-2/ Mon, 15 May 2023 03:27:20 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4433 Ketika mendengar kata “festival”, siapa pun pasti akan membayangkan sebuah acara megah padat aktivitas. Dengan ideal waktu berlangsungnya selama beberapa hari, pengunjung dapat menikmati seharian berkegiatan dan bersenang-senang. Begitu ‘kan yang kebanyakan dari kita pikirkan? Tentunya, saya pun membayangkan hal serupa. Setelah beberapa waktu tak terdengar kabarnya, The Ambengan Tenten kembali hadir dengan inovasi menariknya. […]

The post TERUPA Festival: Ekshibisi NFT yang Mengusung Konsep Tersendiri first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>

Ketika mendengar kata “festival”, siapa pun pasti akan membayangkan sebuah acara megah padat aktivitas. Dengan ideal waktu berlangsungnya selama beberapa hari, pengunjung dapat menikmati seharian berkegiatan dan bersenang-senang. Begitu ‘kan yang kebanyakan dari kita pikirkan? Tentunya, saya pun membayangkan hal serupa.

Setelah beberapa waktu tak terdengar kabarnya, The Ambengan Tenten kembali hadir dengan inovasi menariknya. Kali ini, The Ambengan Tenten menghadirkan sebuah festival bertajuk “TERUPA”. Berasal dari kata “terupa” atau yang berarti “tampak”, menurut filosofinya merupakan makna dari penyatuan indera, pikiran, dan juga jiwa. Sedikit menggelitik tentunya apabila merunut dari namanya, tapi sangat menarik untuk dicaritahu.

Festival yang ternyata merupakan ekshibisi NFT (Non-Fungible Token) ini menghadirkan 70 karya NFT dari 70 seniman digital yang berbeda. Menariknya, 70 karya ini diekshibit dalam bentuk fisik yang dicetak pada media kanvas. Karya-karya ini tentunya merupakan karya terpilih yang sudah dikurasi dan merupakan karya seniman-seniman muda berbakat dari berbagai penjuru Indonesia. Tak hanya ekshibisi saja, ada pula beragam aktivitas menarik yang disuguhkan selama 3 hari acara ini berlangsung—mulai dari talkshow, food truck, hingga workshop yang terbuka untuk umum.

Seperti acara yang sudah-sudah, pembukaan acara kali itu kembali didukung oleh teman-teman dari komunitas seni Aghumi yang mementaskan karya teatrikal. Tak lupa didukung oleh banyak teman-teman komunitas seperti Majalabs, Superlative Secret Society, HNS, serta Rotybroi—semua seakan memberikan waktunya secara cuma-cuma untuk ikut memeriahkan acara tersebut. Menariknya lagi, saya jadi mengenal banyak sekali teman-teman komunitas di tengah gempitanya acara TERUPA.

Ketiga hari acara berlangsung, saya melihat bagaimana semua orang saling membantu, terkoneksi, mengapresiasi setiap karya masing-masing. Ada banyak kreator yang bahkan saya temui jauh-jauh datang ke Bali hanya untuk melihat karya mereka dipamerkan pada acara ini. Animo yang lagi-lagi berhasil disuguhkan oleh The Ambengan Tenten rasa-rasanya harus kembali saya acungi jempol.

Dan sekali lagi, saya masih menanti acara semacam apa lagi yang akan dihadirkan oleh ruang ini.

The post TERUPA Festival: Ekshibisi NFT yang Mengusung Konsep Tersendiri first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>
Aghumi: Mengemas Tarot dalam Konsep Teatrikal https://www.theambengantenten.com/id/aghumi-mengemas-tarot-dalam-konsep-teatrikal-2/ Mon, 15 May 2023 03:26:53 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4431 Sebagai seorang penggemar tarot, tentunya menarik untuk selalu mengulik makna di balik setiap kartu yang ada. Menurut saya, selalu ada cerita yang bisa kita rasakan dari masing-masing kartunya. Berbicara mengenai kartu tarot, saya rasa saya bisa menghabiskan semalam suntuk hanya untuk yang satu ini. Dan tentu saja, ketika saya tau ada pementasan seni yang mengangkat […]

The post Aghumi: Mengemas Tarot dalam Konsep Teatrikal first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>

Sebagai seorang penggemar tarot, tentunya menarik untuk selalu mengulik makna di balik setiap kartu yang ada. Menurut saya, selalu ada cerita yang bisa kita rasakan dari masing-masing kartunya. Berbicara mengenai kartu tarot, saya rasa saya bisa menghabiskan semalam suntuk hanya untuk yang satu ini. Dan tentu saja, ketika saya tau ada pementasan seni yang mengangkat kartu tarot dalam ceritanya, saya tak buang waktu untuk datang dan melihat secara langsung.

Pada TERUPA Festival (5/8/20) lalu, sebuah komunitas seni yang saya kenal di The Ambengan Tenten, Aghumi, membuka acara hari itu dengan sebuah teatrikal yang mengusung cerita mengenai kartu The Fool. Sebagai kartu pertama Major Arcana dalam tarot, tentunya kartu The Fool menyimpan makna tersendiri. Saya pribadi selalu merasa bahwa kartu ini ibarat seorang anak kecil naif yang memimpikan dunia. Matanya yang haus akan banyak sisi kehidupan selalu membawanya menjadi sosok idealis nan polos yang terkadang dianggap bodoh.

Selain kartu The Fool, pementasan yang bertajuk “The Fool: Pelesiran Wayang-wayangan” ini juga diilhami oleh seorang perupa tersohor, Ni Tanjung yang memiliki idealisme tinggi terkait seni yang berhasil mengubah cara pandang banyak mata mengenai seni global. The Fool yang juga melambangkan awal mula kehidupan ini memiliki makna di mana semua yang bermula dari titik nol merupakan perlambang dari unsur-unsur keterbatasan yang justru memberikan esensi keutuhan entitas diri. Dalam keterbatasannya, semua orang mampu menciptakan perubahan sederhana yang dimulai dari dirinya.

Yang paling menarik dari pementasan satu ini, Aghumi berhasil memboyong teman-teman dari komunitas Teater Petir, Teater Sangsaka, Teater Loak, dan Narwastu Austism Learning Awareness untuk ikut andil dalam acara ini. Beberapa properti pentas yang digunakan juga merupakan hasil kerajinan tangan dari teman-teman autis dari Narwastu. Dedikasi Aghumi rasa-rasanya memang harus diacungi jempol, terlebih bagaimana mereka mampu mengajarkan seni kepada anak-anak berusia 5-15 tahun untuk mengekspresikan dirinya melalui seni itu sendiri.

Seperti apa yang dituturkan oleh Tika, salah seorang teman dari Aghumi, rasa-rasanya memang dunia butuh ruang lebih besar untuk kita memberikan pengakuan lebih baik kepada orang-orang di sekitar. Sekecil apa pun perjuanganmu, kau patut untuk diapresiasi sebagaimana mestinya. Sesederhana apa pun mimpimu, kau berhak untuk percaya bahwa mimpi akan membawamu mendunia.

Pembukaan acara TERUPA Festival terasa semakin hangat kala pementasan teatrikal itu telah usai. Tak lupa performance pendukung dari teman-teman SIJI dan musik tradisional oleh Yasa Balinese Music, sore itu semakin romantis kala tiap manusia saling mengoneksikan dirinya di TAT Art Space. Dan menurut saya, tak ada yang lebih menarik ketimbang diingatkan bahwa tiap-tiap kita memberikan perbedaan dengan caranya masing-masing.

Aghumi berhasil menyulap sebuah filosofi sederhana menjadi sebuah pementasan yang tak kalah luar biasa. Di balik itu semua, mungkin kita pun perlu mengingatkan diri bahwa hidup akan selalu baik-baik saja apabila kita mau percaya pada mimpi yang kita punya.

The post Aghumi: Mengemas Tarot dalam Konsep Teatrikal first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>
TAT Art Space: Ekshibisi Solo Beluluk dan Kearifan Lokal Bali https://www.theambengantenten.com/id/tat-art-space-ekshibisi-solo-beluluk-dan-kearifan-lokal-bali-2/ Mon, 15 May 2023 03:25:44 +0000 https://www.theambengantenten.com/?p=4425 Siapa sih yang nggak tau Beluluk? Sebagai penikmat media sosial yang berkehidupan di tanah Dewata, rasa-rasanya karakter Beluluk cukup dekat dengan kita semua. Dengan segala celotehannya di media sosial yang kerap kali menyentil isu-isu terhangat, Beluluk seakan hadir sebagai pengingat untuk kita. Setelah sekian lama mengenal Beluluk dari layar telepon genggam, akhirnya saya berkesempatan juga […]

The post TAT Art Space: Ekshibisi Solo Beluluk dan Kearifan Lokal Bali first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>

Siapa sih yang nggak tau Beluluk? Sebagai penikmat media sosial yang berkehidupan di tanah Dewata, rasa-rasanya karakter Beluluk cukup dekat dengan kita semua. Dengan segala celotehannya di media sosial yang kerap kali menyentil isu-isu terhangat, Beluluk seakan hadir sebagai pengingat untuk kita.

Setelah sekian lama mengenal Beluluk dari layar telepon genggam, akhirnya saya berkesempatan juga untuk mengenal lebih dekat siapa sosok kreator di balik karakter Beluluk. Mengusung tajuk “Pakedek Pakenyem Pawisik”, kali ini TAT Art Space berhasil membuat para undangan berdecak kagum melalui ekshibisi solo Putu Dian sebagai kreator Beluluk. Pasalnya, tidak hanya menyuguhkan beberapa komik strip khas Beluluk, terdapat beberapa aktivasi menarik yang dilakukan oleh Putu Dian hari itu. Acara mewarnai bersama anak-anak, artist talk, serta performance oleh Rare Kual memberikan intimasi tersendiri bagi siapa pun yang hadir.

Sebagai salah seorang perantau yang memilih hidup di tanah Dewata, tentunya ada banyak hal yang seharusnya bisa saya pelajari mengenai kearifan lokal. Melalui pembukaan ekshibisi “Pakedek, Pawisik, Pakenyem” hari itu, saya belajar bahwa ada banyak sisi menarik yang bisa kita mengerti tentang kebudayaan Bali. Ketika mendengar tajuk ekshibisi yang satu ini pun, saya bertanya-tanya mengenai makna yang terpendam di baliknya. Dan benar saja, ada makna tersendiri yang ingin disampaikan melalui pameran satu ini.

Menutur dari kearifan lokal Bali, pakedek pakenyem merupakan sebuah ungkapan populer yang begitu melekat di tengah masyarakat yang secara figuratif merupakan seruan sukacita untuk setiap masalah yang kita rasakan. Sedangkan pawisik yang berarti wahyu, merupakan isyarat semesta pada manusia akan sesuatu yang telah/sedang/akan terjadi. Pakedek, pakenyem, pawisik memberikan makna di mana Putu Dian mencoba mengajak teman-teman semua untuk tetap bersenang hati walau masalah hidup terus ada. Yang menariknya lagi, Putu Dian membawa serta seri terbarunya bertajuk “Speak Up” yang berisi 30 karakter Beluluk dengan kolom dialog yang bisa diisi oleh teman-teman semua. Melalui seri ini pula, Putu Dian ingin mengingatkan kita semua untuk berani mengungkapkan ide yang kita miliki.

Setelah aktivasi dan artist talk, setiap tamu undangan pun diajak serta untuk melihat-lihat setiap sudut TAT Art Space yang direspon melalui banyak dekorasi menarik. Tentunya, hari itu menjadi satu lagi hari yang saya habiskan dengan sukacita. Berbincang dengan Putu Dian, tamu-tamu undangan, serta banyak lagi teman-teman yang hadir membuat saya mengerti bagaimana budaya dapat dikemas dalam satu wadah menarik melalui seni.

The post TAT Art Space: Ekshibisi Solo Beluluk dan Kearifan Lokal Bali first appeared on The Ambengan Tenten Apartment, Indonesia - Official Website.]]>